SportsZam – Piala Afrika, atau yang dikenal luas sebagai Africa Cup of Nations (AFCON), bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Ini adalah panggung prestisius yang mempertemukan tim-tim nasional terbaik dari seluruh penjuru Benua Hitam, sebuah ajang perebutan supremasi yang telah mengukir sejarah sejak pertama kali digulirkan pada tahun 1957. Selama enam dekade lebih, AFCON telah melahirkan legenda, menciptakan dinasti, dan menyaksikan negara-negara seperti Mesir, Kamerun, hingga Nigeria berulang kali mengangkat trofi kebanggaan. Namun, di antara para raksasa ini, siapakah yang benar-benar memegang kendali sebagai penguasa takhta Afrika?
Mengarungi Sejarah Piala Afrika: Evolusi Turnamen Benua Hitam

Sejak awal mula, Piala Afrika telah mengalami metamorfosis signifikan. Setelah periode awal yang dinamis, turnamen ini menemukan ritmenya dengan diselenggarakan secara rutin setiap dua tahun sekali, dimulai dari edisi 1968 hingga 2012. Perubahan besar kemudian terjadi pada tahun 2013, ketika AFCON dipindahkan ke tahun ganjil. Langkah strategis ini diambil untuk menyelaraskan jadwal dengan kalender FIFA dan kompetisi-kompetisi klub di Eropa, memastikan para pemain bintang dapat berpartisipasi tanpa bentrok jadwal yang berarti.
Kini, dengan 24 negara yang berpartisipasi di putaran final, AFCON telah menjelma menjadi salah satu turnamen antarnegara paling kompetitif dan dinanti di kancah sepak bola global. Setiap edisinya selalu menjanjikan pertarungan sengit, di mana tim-tim underdog kerap memberikan kejutan, menambah bumbu drama di setiap gelaran.
Penguasa Takhta Afrika: Daftar Negara Kolektor Gelar Terbanyak
Berikut adalah daftar negara-negara yang telah mengukir nama mereka dalam sejarah sebagai peraih gelar juara Piala Afrika terbanyak, sebuah bukti nyata kekuatan dan konsistensi di lapangan hijau:
| Negara | Jumlah Gelar | Tahun Juara |
|---|---|---|
| Mesir | 7 | 1957, 1959, 1986, 1998, 2006, 2008, 2010 |
| Kamerun | 5 | 1984, 1988, 2000, 2002, 2017 |
| Ghana | 4 | 1963, 1965, 1978, 1982 |
| Nigeria | 3 | 1980, 1994, 2013 |
| Pantai Gading | 3 | 1992, 2015, 2023 |
| Aljazair | 2 | 1990, 2019 |
| Kongo DR | 2 | 1968, 1974 |
| Zambia | 1 | 2012 |
| Tunisia | 1 | 2004 |
| Senegal | 1 | 2021 |
| Afrika Selatan | 1 | 1996 |
| Ethiopia | 1 | 1962 |
| Maroko | 1 | 1976 |
| Sudan | 1 | 1970 |
| Kongo | 1 | 1972 |
Dominasi Firaun yang Tak Terbantahkan
Dari daftar gemilang di atas, satu nama berdiri kokoh di puncak: Mesir. Tim berjuluk The Pharaohs ini telah mengukir sejarah sebagai tim tersukses sepanjang era AFCON dengan koleksi tujuh gelar juara. Kemenangan mereka tersebar di berbagai dekade, dimulai dari edisi perdana pada 1957, diikuti 1959, 1986, 1998, dan puncaknya adalah rentetan dominasi luar biasa pada 2006, 2008, dan 2010. Tiga gelar beruntun dalam kurun waktu empat tahun tersebut menjadi bukti sahih kekuatan dan konsistensi Mesir yang nyaris tak tertandingi di awal milenium ketiga. Sebuah pencapaian yang menempatkan mereka sebagai dinasti sejati sepak bola Afrika.
Pesaing Abadi dan Kejutan dari Benua Hitam
Meski Mesir merajai, persaingan di Piala Afrika tak pernah sepi dari intrik dan kejutan. Kamerun, dengan lima gelar, selalu menjadi ancaman serius, diikuti oleh Ghana yang telah empat kali merasakan manisnya mengangkat trofi. Nigeria dan Pantai Gading juga tidak kalah garang, masing-masing dengan tiga mahkota juara, menunjukkan bahwa kekuatan sepak bola Afrika tersebar di berbagai penjuru.
Selain para raksasa ini, beberapa negara lain juga pernah mencicipi gelar juara, seperti Aljazair dan Kongo DR yang masing-masing memiliki dua trofi, serta tim-tim seperti Zambia, Tunisia, Senegal, Afrika Selatan, Ethiopia, Maroko, Sudan, dan Kongo yang pernah sekali mengukir nama mereka sebagai kampiun. Setiap edisi AFCON selalu menjanjikan pertarungan sengit, di mana tim-tim underdog kerap memberikan kejutan, menambah bumbu drama di setiap gelaran.
Piala Afrika lebih dari sekadar turnamen; ia adalah cerminan gairah dan kekuatan sepak bola di Benua Hitam. Dari setiap tendangan, setiap gol, hingga setiap selebrasi, AFCON menyajikan drama dan persaingan ketat yang tak ada habisnya. Hingga detik ini, Mesir masih berdiri tegak sebagai penguasa takhta, sebuah warisan yang sulit ditandingi. Namun, roda kompetisi terus berputar, dan negara-negara lain di Afrika terus berbenah, siap untuk menantang dominasi Firaun dan mengukir babak baru dalam sejarah sepak bola benua yang penuh semangat ini.





