SportsZam – Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, akhirnya buka suara terkait insiden yang menimpa Timnas Putri Iran usai berlaga di Piala Asia 2026 di Australia. Kisah ini melibatkan dugaan penahanan pemain, tawaran suaka, dan tudingan intervensi asing.
Kronologi Kontroversial

Menurut Taj, masalah bermula ketika sejumlah pemain Timnas Putri Iran menolak menyanyikan lagu kebangsaan sebagai bentuk protes terhadap situasi politik di negara mereka. Aksi ini kabarnya membuat mereka dicap sebagai "pengkhianat".
- Tawaran Suaka: Beberapa pemain kemudian dikabarkan meminta suaka ke Australia, yang direspon positif oleh pemerintah setempat.
- Dicegat di Jalan: Saat tim hendak kembali ke Iran melalui Kuala Lumpur, bus mereka dikabarkan dicegat oleh sekelompok orang yang mendesak pemain lain untuk ikut meminta suaka.
Tudingan Intervensi dan Penahanan
Taj mengecam keras dugaan intervensi Amerika Serikat dalam masalah ini. Ia mengklaim bahwa polisi Australia bahkan sempat menahan satu atau dua pemain di hotel.
"Saya tidak tahu sejauh mana pengabdian Presiden AS terhadap tim nasional wanita kami, sehingga dia berkali-kali bicara soal mereka. Salah satu kicauannya mengatakan semua anggota tim harus mencari suaka, dan kami (AS) menyambut hal itu," ujar Taj, seperti dikutip SportsZam dari WANA.
Bantahan Australia
Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, membantah tudingan adanya paksaan kepada Timnas Putri Iran untuk bertahan. Ia menegaskan bahwa Australia hanya menawarkan perlindungan dan menghormati keputusan individu masing-masing pemain.
"Tujuan Australia di sini bukanlah untuk memaksa orang membuat keputusan tertentu. Kami bukan negara seperti itu," kata Burke, seperti dikutip SportsZam dari ABC.
Rangkuman Klaim dan Bantahan
Berikut adalah rangkuman klaim dari Federasi Sepak Bola Iran dan bantahan dari Pemerintah Australia:
| Klaim Federasi Iran | Bantahan Pemerintah Australia





