SportsZam – Kemenangan krusial Arsenal atas Brighton & Hove Albion akhir pekan lalu kembali diwarnai sebuah fenomena yang mulai akrab bagi Meriam London: gol bunuh diri lawan. Tren ini semakin mengukuhkan reputasi The Gunners sebagai tim yang bisa meraih poin dengan berbagai cara, meski terkadang harus dibantu ‘kemurahan hati’ dari kubu lawan.
Drama di Emirates: Gol Bunuh Diri Kembali Jadi Penentu

Di Emirates Stadium yang bergemuruh, Sabtu (27/12/2025) malam WIB, Arsenal sukses mengamankan tiga poin penting dengan skor 2-1. Gol pembuka dicetak oleh sang kapten karismatik, Martin Odegaard, yang menunjukkan ketajamannya di lini tengah. Namun, sorotan utama justru tertuju pada gol kedua yang tercipta secara tak terduga. Georginio Rutter dari Brighton ‘membantu’ menambah keunggulan Arsenal melalui gol bunuh diri yang memicu perayaan sekaligus keheranan di tribun.
Momen ‘Hadiah’ dari Declan Rice
Gol bunuh diri Rutter terjadi dalam situasi yang cukup dramatis. Berawal dari sepak pojok yang dieksekusi dengan presisi oleh gelandang jangkar Arsenal, Declan Rice, bola melambung ke kotak penalti Brighton. Rutter, yang berupaya menghalau ancaman tersebut dengan sundulan, justru salah mengantisipasi arah bola. Alih-alih menjauhkan bahaya, ia malah mengarahkan si kulit bundar ke gawangnya sendiri, membuat kiper timnya tak berdaya dan memberikan keunggulan vital bagi Arsenal.
Tren Unik: Arsenal dan ‘Hadiah’ dari Lawan
Fenomena gol bunuh diri ini bukan kali pertama terjadi bagi Arsenal musim ini. Gol Rutter menjadi penanda berlanjutnya sebuah tren unik yang mulai menjadi ciri khas perjalanan The Gunners. Sebelumnya, skuad asuhan Mikel Arteta juga diuntungkan oleh gol serupa saat menghadapi Crystal Palace. Bahkan, yang lebih mencengangkan, mereka mendapatkan dua gol bunuh diri saat melawan Wolverhampton Wanderers dalam satu pertandingan!
Statistik Mencengangkan dari Opta
Data statistik dari Opta Football mengungkapkan fakta yang cukup mencengangkan: empat dari enam gol terakhir yang dicetak Arsenal di Liga Primer Inggris berasal dari kesalahan fatal lawan alias gol bunuh diri. Angka ini setara dengan jumlah gol bunuh diri yang mereka dapatkan dalam 182 gol sebelumnya! Sebuah anomali yang patut dicermati dan menjadi topik hangat di kalangan penggemar dan analis sepak bola.
Dua Sisi Mata Uang: Keberuntungan atau Alarm Bahaya?
Di satu sisi, tren ini bisa diartikan sebagai tanda bahwa Arsenal memiliki mental juara yang memungkinkan mereka menemukan jalan menuju kemenangan, bahkan ketika keberuntungan berpihak. Kemampuan mereka untuk terus menekan dan menciptakan situasi berbahaya seringkali memaksa lawan melakukan kesalahan fatal. Ini menunjukkan bahwa The Gunners bisa menang dengan berbagai cara, baik melalui skema serangan yang rapi maupun ‘hadiah’ dari lawan.
Namun, di sisi lain, ketergantungan pada ‘hadiah’ dari lawan bisa menjadi sinyal bahaya yang perlu diwaspadai. Dalam perburuan gelar yang ketat, konsistensi mencetak gol dari skema permainan sendiri tentu lebih diidamkan ketimbang mengandalkan blunder lawan. Apakah ini pertanda kurangnya efektivitas lini serang atau hanya kebetulan semata? Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi staf pelatih Arsenal.
Puncak Klasemen Kembali Digenggam, Tapi…
Kemenangan atas Brighton ini membawa Arsenal kembali menduduki puncak klasemen Liga Inggris dengan koleksi 42 poin, unggul dua angka dari Manchester City yang sempat mengambil alih posisi teratas. Posisi puncak tentu menjadi dorongan moral yang besar bagi tim. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah tren gol bunuh diri ini akan terus menjadi jimat keberuntungan yang mengantarkan mereka menuju gelar juara, atau justru menjadi pengingat akan perlunya peningkatan efektivitas serangan agar tidak terlalu bergantung pada ‘kemurahan hati’ lawan di tengah persaingan yang semakin ketat? Hanya waktu yang akan menjawab.





