SportsZam – Awan gelap menyelimuti awal perjalanan PSS Sleman di kasta tertinggi Super League 2026/27. Tiga pertandingan, tiga kekalahan beruntun, dan nol poin menjadi rapor merah yang harus diterima Super Elang Jawa. Namun, di tengah badai kritik dan tekanan yang mulai menguat, pelatih Pieter Huistra tetap berdiri tegak dengan keyakinan penuh, bahkan 100 persen, bahwa timnya akan segera bangkit dari keterpurukan ini.
Awal Musim Penuh Duri bagi Super Elang Jawa

Perjalanan PSS Sleman di Super League musim ini jauh dari kata mulus. Setelah promosi dengan penuh perjuangan, mereka langsung dihadapkan pada kerasnya persaingan yang tak kenal ampun. Kekalahan pertama datang dari Bali United dengan skor tipis 1-2. Laga berikutnya, Madura United memberikan pelajaran pahit dengan skor 1-3. Puncak dari rentetan hasil minor ini terjadi saat melawat ke markas Dewa United di Banten International Stadium (BIS), Minggu (20/9/2026), di mana PSS kembali menyerah 1-2.
Tiga hasil tersebut menempatkan PSS di posisi ke-15 klasemen sementara, sebuah posisi yang tentu tidak ideal bagi tim yang baru naik kasta. Tekanan untuk segera meraih poin perdana semakin memuncak seiring berjalannya waktu.
Keyakinan Pieter Huistra yang Tak Tergoyahkan
Meskipun papan skor dan klasemen berbicara lain, Pieter Huistra menolak untuk menyerah pada pesimisme. Pelatih asal Belanda ini dengan tegas menyatakan keyakinannya bahwa poin-poin krusial akan segera menghampiri timnya.
"Saya 100 persen yakin poin-poin itu akan datang kepada kami. Sejauh ini, kami seharusnya bisa mendapatkan lebih banyak poin. Gol-gol yang kami kebobolan juga terlalu mudah," ujar Huistra, seperti dikutip dari SportsZam.
Huistra menambahkan bahwa timnya masih dalam proses adaptasi dengan level kompetisi yang lebih tinggi. Status sebagai tim promosi memang menuntut penyesuaian yang tidak mudah, namun ia percaya bahwa setiap pertandingan adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang.
"Itu akan datang, saya 100 persen yakin. Tim ini harus semakin menyatu dan harus terbiasa dengan level yang lebih tinggi. Ketika menghadapi lawan-lawan lainnya, kami akan mendapatkan peluang," tegasnya, menyiratkan optimisme bahwa Super Elang Jawa akan menemukan ritme terbaiknya.
Masa Depan Huistra di Ujung Tanduk?
Rentetan hasil negatif tentu saja memicu sorotan tajam terhadap posisi seorang pelatih. Di dunia sepak bola, tiga kekalahan beruntun seringkali menjadi alarm bahaya yang bisa berujung pada perubahan di kursi kepelatihan. Namun, Huistra tampak tenang menghadapi spekulasi mengenai masa depannya di kursi kepelatihan PSS.
"Mengenai posisi saya sendiri, ya, kita lihat saja apa yang terjadi. Bagi saya tidak masalah," ucap Huistra dengan nada datar, menunjukkan profesionalisme dan fokusnya pada kinerja tim, bukan pada nasib pribadinya. Sebuah pernyataan yang bisa diartikan sebagai kepercayaan diri atau justru pasrah pada keputusan manajemen.
Bukan Hanya PSS: Derita Tim Promosi dan Tim Lain
PSS Sleman tidak sendirian dalam menghadapi awal musim yang berat ini. Beberapa tim lain juga merasakan pahitnya kekalahan beruntun. Persijap Jepara, misalnya, juga menelan tiga kekalahan dan kini berada di posisi ke-16. Lebih parah lagi, sesama tim promosi, Isenmulang Kalteng FC, terdampar di dasar klasemen dengan minus dua poin, menunjukkan betapa kejamnya persaingan di Super League dan tantangan besar bagi tim-tim yang baru naik kasta.
Berikut adalah gambaran singkat posisi tim-tim yang masih berjuang keras di awal musim:
| Tim | Main | Menang | Seri | Kalah | Poin | Posisi |
|---|---|---|---|---|---|---|
| PSS Sleman | 3 | 0 | 0 | 3 | 0 | 15 |
| Persijap Jepara | 3 | 0 | 0 | 3 | 0 | 16 |
| Isenmulang Kalteng FC | 3 | 0 | 0 | 3 | -2 | 18 |
Mampukah PSS Sleman, dengan keyakinan penuh dari Pieter Huistra, segera membalikkan keadaan dan membuktikan bahwa mereka layak bersaing di Super League? Hanya waktu dan performa di lapangan yang akan menjawabnya.






































