SportsZam – Panggung Piala AFF 2026 telah menutup tirainya bagi Timnas Indonesia, meninggalkan jejak kekecewaan setelah langkah Garuda terhenti di fase grup. Di tengah sorotan kegagalan ini, nama Mitchell Baker, striker muda naturalisasi yang sempat dielu-elukan, kini menjadi subjek perdebatan sengit. Dari debut yang memukau dan panen sanjungan, performa sang penyerang justru meredup di momen-momen krusial, seiring dengan tersingkirnya skuad Merah Putih.
Awal Gemilang yang Penuh Harapan

Kedatangan Mitchell Baker ke Timnas Indonesia pada akhir Juli lalu disambut antusiasme tinggi, dan ia tak butuh waktu lama untuk membuktikan kapasitasnya. Penyerang berusia 19 tahun ini langsung mencuri perhatian dengan penampilan eksplosif di awal turnamen. Ia mengukir hat-trick sensasional saat Indonesia melibas Kamboja 5-1, sebuah debut yang menjanjikan. Tak berhenti di situ, Baker juga turut menyumbang satu gol kala Garuda menundukkan Timor Leste 3-0, menegaskan statusnya sebagai mesin gol baru.
Performa awal Baker bahkan membuat Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, melontarkan pujian setinggi langit. Erick melihat Baker sebagai "penebalan striker" yang sangat dibutuhkan, melengkapi lini depan yang selama ini terlalu bergantung pada Ole Romeny. "Akhirnya kita punya penebalan striker… Mitchell, saya rasa punya tinggi yang memang diperlukan, 197 sentimeter. Mobilitasnya juga baik," ujar Erick kala itu. Namun, Erick juga mengingatkan bahwa level sesungguhnya akan terlihat saat menghadapi tim-tim kuat, sebuah pernyataan yang kini terasa relevan.
Ketika Ujian Sesungguhnya Datang
Sayangnya, ketajaman Mitchell Baker seolah menguap saat Timnas Indonesia berhadapan dengan lawan-lawan yang lebih berat. Momen krusial datang saat Garuda menghadapi Vietnam dan Singapura, dua pertandingan yang menjadi penentu nasib di Grup A. Melawan Vietnam, Baker tampak kesulitan menembus pertahanan lawan, hanya mencatatkan tiga tembakan sepanjang 82 menit bermain, tanpa hasil signifikan.
Puncak kekecewaan terjadi pada laga penentuan kontra Singapura di Jalan Besar Stadium, Jumat (7/8/2026). Hasil imbang 1-1 memastikan Indonesia finis ketiga di Grup A dengan 6 poin, di bawah Vietnam (10) dan Singapura (8), sekaligus mengakhiri perjalanan di Piala AFF 2026. Di laga ini, Baker yang diharapkan menjadi pembeda, justru gagal menunjukkan magisnya. Sepanjang pertandingan, ia memiliki empat peluang mengancam gawang lawan, namun tak satu pun berbuah gol.
Peluang emas pertamanya di menit ke-2, setelah menerima umpan panjang Thom Haye, gagal dikonversi menjadi gol usai sepakannya di depan gawang diblok lawan. Tiga sundulan lainnya juga tak menemui sasaran. Penampilan ini menjadi bukti bahwa Baker belum mampu menjadi tumpuan utama di bawah tekanan tinggi, terutama saat tim sangat membutuhkan gol.
PR Besar Menanti Sang Wonderkid
Debut Mitchell Baker di kancah internasional memang penuh dinamika. Dari sorotan terang di awal, kini ia harus menghadapi realitas pahit kegagalan tim dan performa yang belum konsisten. Sebagai pemain berusia 19 tahun yang baru dinaturalisasi, jam terbang, khususnya dalam menghadapi tim-tim kuat di Asia Tenggara, menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
Tantangan berikutnya sudah menanti di Kejuaraan FIFA Asean Cup bulan depan. Ajang tersebut akan menjadi kesempatan bagi Mitchell Baker untuk membuktikan bahwa pujian yang sempat melambung tinggi padanya bukanlah sekadar euforia sesaat, melainkan investasi jangka panjang yang akan membuahkan hasil. Akankah ia mampu menjawab keraguan dan kembali bersinar? Hanya waktu dan kerja keras yang bisa menjawabnya.






































